Agro Mono Horti. & Konsultan

Rabu, 10 November 2010

Bibit Buah Anggur: Munculnya "Musim Gugur" di Indonesia

Cerita ini dimulai ketika seorang teman pengusaha menelpon malam-malam mau pesen bibit buah,
"Mas, aku minta segera dikirim 1070 bibit Apel dan 988 bibit Anggur Merah, Anggurnya merah yang Red Price, ya. Kalau bisa Minggu depan sudah sampai di tempatku!" Aku nggak bisa membayangkan keuntungan yang aku dapat nantinya dari transaksi ini. Apalagi dia termasuk pelanggan lama, pingin rasanya aku meloncat kegirangan......tapi malu, hp belum kututup. Namun aku jadi teringat sesuatu, karena dia termasuk dalam katagori pelanggan yang awam tentang dasar-dasar ilmu pertanian. Dia adalah pengusaha yang menubruk setiap peluang, meskipun dia tidak tahu apa-apa tentang peluang tersebut. Dia seringkali bilang bahwa dia bisa bayar orang pintar yang tahu dengan peluang itu.
"Maaf, ngomong-ngomong bapak mau tanam di mana?"
"Di Bogor, Mas!" Jawabnya polos. Namun ditelingaku bagai teriakan auman singa. Benar saja kekuatiranku, dan buyar sudah lamunanku akan besarnya keuntungan yang akan kudapat. Aku diam sebentar, nggak tahu mau bicara apa lagi? Aku kaget, ketika dia teriak-teriak memanggilku. Rasanya malas, tapi aku harus jelaskan sejelas-jelasnya.
"Maaf, pak. Tetapi itu tidak mungkin!"
"Maksudnya?"
"Secara itungan bisnis, keduanya tidak mungkin ditanam di Bogor, apalagi Apel sampai kapanpun tidak bisa, pak"
"Lho, di luar negeri, keduanya ada di dataran tinggi seperti Bogor!"Jawabnya mulai agak ketus.
"Begini, Bos. Memang betul, Apel bisa tumbuh di atas ketinggian 1000 dpl, tapi hanya bisa berbuah di daerah yang curah hujannya kurang dari 3000 mm/tahun. Sedangkan Bogor curah hujannya saja mencapai 4000 mm/tahun. Untuk Anggur, ibaratnya pingin di bawahnya basah di atasnya kering. Atau mau banyak air tapi ogah banyak hujan. Ada sih orang asing yang pernah berhasil mengusahakan Anggur di Bogor dan sempat terkenal, tetapi biaya produksinya mahal, makanya sekarang namanya menghilang, tak terdengar lagi. Kecuali kalau cuma untuk koleksi pribadi sih masih mungkin, dengan perlakuan di rumah kaca, misalnya" Saya diam sebentar menunggu reaksinya. Aku menduga, dia tampaknya shok dengan keteranganku tadi.
"Bagaimana, pak?" Masih diam. Yang terdengar kemudian suara tanda Hp ditutup, tanpa salam.
Ah, seandainya dia tahu, saya lebih kecewa daripada dia.

Sejak dulu keduanya memang termasuk tanaman buah-buah impian yang diincar bayak pengusaha besar. Ketika dulu masih bekerja di perkebunan, saya sempat disuruh keliling daerah Probolingo, Kediri, Malang dan daerah Seririt (Bali) selama beberapa bulan untuk kepentingan sebuah proyek dan melihat langsung perkembangan pertanian Anggur dan Apel milik rakyat. Meski kemudian rokemendasi saya bahwa proyek itu mesti dibatalkan, karena beberapa alasan, namun saya sempat menyaksikan fenomena yang luar biasa di Seririt (dan Banyupoh) di Singaraja, Bali. Waktu itu di Banyupoh hampir setiap rumah menanam tanaman Anggur (sayangnya, tahun 2001 saya berkunjung ke sana suasana itu sudah hilang) dan saya melihat pemandangan yang tak ada di tempat lain di negara kita; daun banyak berguguran begitu saja di pekarangan rumah. Wow, saya merasa seperti di negara-negara yang punya 4 musim. Betul-betul seperti mimpi! Saya terus berjalan keliling kampung, seperti tanpa lelah. Baru setelah saya bertemu salah seorang penduduk, teka-teki itu terjawab sudah.
"Tanaman Anggur memang perlu dirompes, bli. Supaya bisa berbuah" Katanya sambil tersenyum "Tanpa rompesan daun, kecil kemungkinan Anggur bisa berbuah lebat."
Kemudian saya diajak melihat sebuah rumah yang tanaman Anggurnya sedang dirompes/digugurkan oleh 6 orang tukang yang kerjanya khusus merompes dan memangkas. Saya juga diperkenalkan pada penyuluh pertanian yang kebetulan ada di situ. Saya tanyakan juga hal ini pada sang penyuluh.
"Di tanah asalnya, sebelum berbuah, Anggur mengalami musim gugur dulu dan sekarang kita sedang meniru kondisi alam yang seperti itu!" Fantastis, kita memang manusia yang punya banyak cara dan akal untuk mengatasi masalah alam/musim, sepanjang itu bukan persyaratan mutlak tumbuh dan bisa berbuahnya tanaman seperti pada kasus teman saya tadi.
Perjalanan aku teruskan ke Seririt, sekali lagi pemandangan musim gugur aku saksikan dengan penuh takjub, memuji kebesaran-Nya. Apalagi di Seririt luasannya sampai berhektar-hektar karena terletak di bekas lahan persawahan yang diubah jadi perkebunan Anggur rakyat. Di sinilah aku tertunduk malu, betapa Tuhan terus menerus menambah ilmuku, tapi aku masih merasa kurang dari segi harta. Akupun menyempatkan diri Sholat di Masjid yang terletak di kampung Muslim di Seririt. Maafkan hamba-Mu ini, Tuhan!
Sedangkan di Malang, aku juga menyaksikan pemandangan serupa dengan perompesan tanaman Apel supaya berbuah, dan daun-daun yang berguguran, meskipun tidak sedahsyat di Bali.
















0 ulasan:

Poskan Komentar

Silahkan Anda berkomentar. Namun tetap menjaga kesopanan. Terima-kasih.

 
Free Web Hosting | Top Web Host