CEK & KLIK

Sabtu, 29 Januari 2011

Nikmatnya Sedekah Bibit Buah

Dulu saya pernah tinggal lama di Cikarang. Tinggal di sebuah kampung yang sebagian penduduknya bekerja mencari nafkah dengan mengedarkan proposal sumbangan pembangunan Masjid di jalan-jalan, terutama di Jakarta. Rasanya sedih banget saya waktu itu, mereka seperti menjual agama secara murah, kok bisa begitu? Mereka bekerjanya seperti mafia; ada yang membuat proposal dengan alamat aspal, ada yang jadi bosnya (maksud saya yang beli proposal tersebut), dan ada pengedar yang membeli eceran salinan proposal dari bos tadi.

Suatu hari saya bertemu mereka di jalan, mereka berpakaian Muslim lengkap dengan baju koko dan kopiahnuya. Waktu itu saya bersama seorang teman yang guru ngaji dan sikap saya agak sinis padanya, ketika dia memberi mereka uang. Namun dia justru tersenyum dan balik menyadarkan saya ketika dia berkata:
"Berpikir yang baik-baik saja, mas! Niat kita ngamal ya udah titik. Nggak usah berpikir macam2. Ikhlas aja, enakkan?" Diapun menatap saya sambil tersenyum.
Rasanya hati saya 'mak plong'. Selama ini saya terbebani oleh kebencian saya pada mereka. Rasa benci itupun hilang! Dulu saya menganggap mereka menjelek-jelekan citra agama saya. Sudahlah, dosa mereka urusan mereka sendiri.


Apalagi setelah saya melihat tayangan 'Nikmatnya Sedekah' Ustad Yusuf Mansyur di MNCTV tiap Selasa dan Rabu setelah Sholat Shubuh.Saya sadar begitu dahsyatnya sedekah. Sedekah membersihkan harta kita, menjadi tolak bala dan mampu melipatgandakan dengan mengembalikan apa-apa yang kita sedekahkan dengan ikhlas dengan kelipatan yang tak terbatas. Luar biasa! Sekarang, tiap kali ada masalah, order sepi atau nggak ada mood menulis, saya upayakan kalo ada bersedekah, entah dari mana, perlahan-lahan Tuhan memberi jalan keluarnya. Alhamdulillah.

Yang berat adalah saat kita dapat kesenangan dengan mendapatkan rejeki uang yang banyak, kita sering lupa, padahal sedekah adalah pengait atau tali penyambung dari rejeki yang satu ke rejeki yang lain. Yang terjadi kemudian rejeki kitapun terputus. Dan di saat seperti inilah kita gampang berputus asa, maka makin jauhlah rejeki itu.


Masalahnya sekarang , mengapa kita bisa lupa atau khilaf? Karena hanya bentuk uang kan yang Anda berikan. Ini menimbulkan rasa bosan yang membahayakan. Apalagi 'menurut pikiran kita' uang itu hasil kerja keras kita, tentu kita eman untuk melepaskannya. Uang sedemikian cairnya, sehingga pikiran kita berprasangka pasti akan digunakan untuk keperluan konsumtif  yang tidak perlu. Ini yang menjadikan kita males dan kemudian berlanjut ke lupa. Sayapun berpikir terus untuk mencari pengganti uang dan byaaar.....kenapa tak pernah terpikir untuk bersedekah dengan bibit buah?


Idenya tercetus begitu saja. Di kampung istri saya, tiap kali saya ceritakan ada lengkeng yang bisa berbuah di dataran rendah, mereka justru tertawa. Dari dulu itu nggak mungkin, mas! Akhirnya setelah mendapatkan keuntungan dari suatu transaksi, saya bawa pulang kampung beberapa bibit buah, termasuk lengkeng dataran rendah dan saya bagikan ke beberapa saudara istri saya untuk ditanam. Uhhh, bangganya! Apalagi kalo nanti sudah berbuah. Wuihhh (karena saya yakin itu). Terima kasih Tuihan.

Itulah ide awal saya untuk membuka donasi sedekah bibit buah bagi Anda. Saya melihat masih banyak daerah-daerah yang memerlukan bibit buah, tapi yang benar-benar unggul dan siap ditanam di lapangan. Mungkin dalam hati Anda protes. Saya mengerti. Apa betul kita kekurangan? Lihatlah angka makan buah di negeri ini yang masih rendah. Atau lihatlah sekitar Anda, mengapa anak-anak tetangga masih suka mencuri tanaman buah kita? Yang membuat kita jengkel, geram dan memilih untuk menebang tanamannya! Sayangkan....

Terus terang kita masih tertinggal tehnologi hortikulturanya dibandingkan negara tetangga sekalipun. Dulu almarhum pak Harto sadar itu, beliau memang memprioritaskan swasembada beras dulu, dan setelah itu tercapai maka beliau pun ikut membidani lahirnya Mekarsari. Contoh di sekitar saya, Ungaran terkenal sebagai salah satu daerah sentra Rambutan, namun cobalah untuk mencoba membeli di pinggir jalan ketika panen raya. Anda akan temukan Rambutan yang kecil, tidak nglotok dan masih terasa masam. Bagaimana mungkin ini masih terjadi, ketika kita melihat banyak berdirinya pembibitan buah unggul, proyek penyebaran bibit buah oleh pemerintah dan dilahirkannya buah unggul nasional seperti Rapiah. Entahlah....yang jelas masih banyak yang perlu kita benahi dan kita sedekahkan. Mari!







About Sulis Mono

Pellentesque penatibus, sed rutrum viverra quisque pede, mauris commodo sodales enim porttitor. Magna convallis mi mollis, neque nostra mi vel volutpat lacinia, vitae blandit est, bibendum vel ut. Congue ultricies, libero velit amet magna erat. Orci in, eleifend venenatis lacus.

You Might Also Like

1 komentar:

  1. bagus banget infonya, semoga dibalas dengan berlipat ganda
    jika ingin info tambahan bisa mengunjungi ini Bibit tanaman Anggur

    BalasHapus

Silahkan Anda berkomentar. Namun tetap menjaga kesopanan. Terima-kasih.