Agro Mono Horti. & Konsultan

Sabtu, 01 Januari 2011

Pengalaman Mengecewakan Beli Bibit Buah

Kemarin hujan-hujanan pakai motor mau mengantar bibit Sukun yang cuma 2 batang ke pelanggan di Karang Jati Ungaran. Saking derasnya hujan, saya nggak tahan, mampir ke Koh Ciut si juragan beras langganan istri saya di pasar Babadan. Wajah Koh Ciut tampak cemberut melihat saya bawa bibit.
"Ada apa Koh?" tanya saya penasaran.
"Lo bawa apa yah?" Koh Ciut balik nanya dengan logat Mandarinnya yang masih kental.
Saya nggak jawab, saya perhatikan dia makin cuek dengan kehadiran saya, padahal biasanya dia ramah dengan banyolannya. Istrinya rupanya paham dengan situasi ini, iapun langsung nyrocos bercerita kenapa suaminya bersikap seperti itu.
"Sejak peristiwa itu, dia benci aja kalo lihat orang bawa bibit buah, begitu!" tuturnya menuntaskan ceritanya.
Saya lihat Koh Ciut tak bereaksi dengan cerita istrinya. Namun saya sekarang memahami, kekecewaan yang dirasakan tentu mendalam. 

Kekecewaan Koh Ciut hanyalah salah satu contoh kecil, begitu banyak pemain di jagad pembibitan buah yang tidak memperhatikan kelanjutan setelah transaksi pembelian bibit buah selesai.  Tidak melulu urusan penjual bibit di pinggir jalan saja, namun juga bibit-bibit yang dibagi cuma-cuma kepada penduduk dari pemerintah.

Banyak isu-isu miring tentang bibit pemerintah ini. Dari mulai perlakuan terhadap bibit, ukuran bibit yang kecil, keaslian terhadap keunggulan varitasnya sampai pada tidak adanya audit terhadap tingkat kematian bibit di lapangan yang tinggi. Suatu kali saya mengunjungi sebuah lembaga riset pemerintah tentang pemuliaan tanaman. Tiba-tiba datang seorang penduduk yang tinggal di dekat lembaga tersebut, dia menanyakan tentang tanaman durian Montongnya (bibitnya dari pemerintah) yang umurnya sudah tujuh tahun, tapi tidak juga berbuah. Setelah dichek petugas langsung ke rumahnya, ternyata bukan durtan Monthong. Bayangkan tujuh tahun menunggu, tiba-tiba harus menelan kekecewaan ini.

Lantas bagaimana dengan perlakuan terhadap bibit buah ini? Pernahkah Anda melihat bibit diturunkan dari truk dilemparkan bagaikan batu saja di kantor kelurahan Anda (ini diceritakan secara detail oleh pembeli saya yang begitu iba melihatnya). Bagaimana dengan tender pengadaan bibit buah pemerintah? Kayaknya sudah jadi rahasia umum dan tak perlu dibahas. Saya cuma berharap ada perbaikan yang berkelanjutan terhadap progam-program pembagian bibit dari pemerintah dan yang pasti harus ada audit di lapangan.

Namun saya juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada pemerintah, saya menyaksikan sendiri bagaimana bukit-bukit yang gundul di Boyolali bisa disulap jadi hutan jati yang menghijau berkat peranan penting para penyuluh di lapangan.

Semestinya kita mulai memberi perhatian sungguh-sunguh terhadap kemungkinan yang terjadi kelak pada bibit yang kita jual atau kita beli. Masih banyak kok penjual bibit buah yang tidak hanya memikirkan keuntungan sesaat, mereka selain penjual juga menjadi konsultan ahli bagi para pembelinya. Mereka akan memilihkan yang terbaik bagi konsumennya. Semoga!








0 ulasan:

Poskan Komentar

Silahkan Anda berkomentar. Namun tetap menjaga kesopanan. Terima-kasih.

 
Free Web Hosting | Top Web Host