CEK & KLIK

Senin, 31 Januari 2011

Sedia Bibit Buah Simalakama?









Mungkin Anda tertawa mendengar judul pertanyaan di atas, tapi saya tidak hanya sekali saja mendapat pertanyaan seperti itu? Atau mungkin Anda merasa saya mebuat-buat saja judul di atas, kalau sekiranya Anda masih kurang percaya, salah satunya Anda bisa lihat di komentar blog ini? Atau mungkin Anda iseng ingin tanya juga: Adakah buah Kuldi yang membuat Ibu Siti Hawa tergoda? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sudah biasa bagi saya, kali pertama mungkin timbul rasa marah sejenak, lalu berangsur-angsur tertawa ngakak!

Buah Simalakama kan buah yang membuat orang yang memakannya bergidik, bagaimana tidak wong kalau dimakan Emak mati...eeee kalau ngeyel nggak dimakan Bapak yang mati! Sepertinya hanya perumpamaan, namun kalau kita pelajari lebih dalam, buah simalakama adalah pilihan hidup kita sehari-hari. Setiap detik, menit, jam dan hari maka kita terus dihadapkan pilihan yang luar biasa banyaknya. Apalagi di saat sekarang ini tiap harinya kita dibombardir jutaan iklan, baik yang sadar maupun yang tidak sadar masuk ke ingatan kita. Kalau kita tidak siap, kesalahan dalam pilihan akan berakibat dahsyat dan berantai (terus-menerus, sambung menyambung) bahkan lebih kejam daripada memakan buah simalakama itu sendiri.

Lho trus apa hubungannya buah simalakama dengan bibit buah? Banyak lah. Coba kalau seandainya ketika Anda remaja (17-an) dulu sudah rajin menanam bibit buah, sedangkan sekarang umur Anda misalnya 45 tahun, maka saat ini Anda tinggal memetiknya hasilnya kan? Tapi kalau tidak, sekarang ini Anda mesti cepat-cepat menanam bibit buah, sebelum semuanya terlambat.......Lain bener lho makan di atas pohon dengan buah-buah ranum yang matang di pohon dengan makan beli di pinggir jalan. Jauhhhhh.......

Lebih-lebih lagi kalau dihubungkan dengan tabulampot (tanaman buah dalam pot) yang wah. Tabulampot Super (artinya super mahal) pernah membuat saya dimaki-maki oleh seorang bapak, ketika dia saya beritahu harganya. Dia bilang bahwa dia bisa beli ratusan bibit dengan jumlah uang yang saya sebutkan. Namun diapun mengerti ketika kujelaskan beberapa hal berikut ini:
- tabulampot tersebut telah mengalami training selama 4 tahun lebih
- tabulampot tersebut bibitnya langsung diimpor dari negar asal
- tabulampot tersebut diletakkan dalam pot kayu pernis yang harganya mahal
- tabulampot tersebut satu-satunya milik saya yang sudah berbuah
- tabulampot tersebut termasuk masih langka di negeri ini dan dicari-cari
- dll, masih banyak lagi.

Sampai kemudian bapak itu mohon maaf kepada saya dengan takjim, dan minta kepada saya untuk mau melepas tabulampot itu padanya, sebagai tebusan atas perasaan bersalah yang dia rasakan. Sebenarnya saya memberi label harga selangit itu dengan sengaja, supaya tidak ada orang yang mampu membelinya. Namun karena saya terbawa emosi perasaan waktu itu, trenyuh melihat bapak itu dengan sungguh-sungguh minta maaf, sayapun mengabulkannya tanpa berpikir akibatnya. Padahal akibatnya sungguh dahsyat (sampai sekarang saya masih merasa menyesal), saya melepaskan contoh satu-satunya dari leci dataran rendah yang sudah berbuah! Sungguh waktu itu seperti memakan buah simalakama. Ah, sudahlah!





About Sulis Mono

Pellentesque penatibus, sed rutrum viverra quisque pede, mauris commodo sodales enim porttitor. Magna convallis mi mollis, neque nostra mi vel volutpat lacinia, vitae blandit est, bibendum vel ut. Congue ultricies, libero velit amet magna erat. Orci in, eleifend venenatis lacus.

You Might Also Like

1 komentar:

Silahkan Anda berkomentar. Namun tetap menjaga kesopanan. Terima-kasih.