Agro Mono Horti. & Konsultan

Jumat, 25 Februari 2011

Gratis Bibit Buah!

Pernahkah Anda menerima bibit buah gratisan? Jika pernah, apakah Anda meneliti keasliannya atau sekedar nanya brangkali? Kebanyakan orang yang mendapatkan bibit buah gratisan, baik dari pemerintah, organisasi, para donatur perorangan, bahkan restourant tempat Anda makan sangat jarang menanyakan detail buah yang diterima, yang penting mah buah unggul aja! Padahal Anda tanpa disadari telah menukarkan bibit buah tersebut dengan impian Anda.

Sewaktu jalan-jalan di Bandungan, Semarang, saya melihat ada tanaman buah jeruk besar di depan sebuah rumah dengan buahnya yang mengemaskan, kayak Jeruk Bali tapi bukan. Saya sempatkan untuk melihat dari dekat dan bertanya pada pemiliknya, seorang nenek yang lancar bercerita dari mana dia mendapatkan bibit buah tersebut. Dia hanya hafal nama Kepala Desa yang menjabat saat dia menerima bibit tersebut. Dia mendapatkan jatah dua batang bibit Jeruk. Dia hanya dikasih tahu itu jeruk bagus dan unggul, tanpa nama.

Tentu Anda bertanya; kan bisa nanya ke yang lain, ini bibit Jeruk apa? Oh, Anda tak kan sempat nanya karena biasanya dibagikan dengan cara pilih sendiri, sehingga terjadi kegaduhan dan saling berebut, mumpung gratis. Dikasih saja 'matur nuwun' kok pakai nanya segala!

Lantas saya bilang ke Nenek tersebut bahwa mungkin saja batang atasnya mati.
Eeh, beliau langsung menyahut:
"Trus yang saya tanam di sawah, gimana? Kecutnya juga seperti ini!" Ya, udah. Nasib, Nek. Berarti bibitnya emang jelek.

Trus siapa yang salah?

Pernah di sebuah pembibitan bunga di daerah Jawa bagian barat saya bertemu dengan seorang pensiunan. Meski saya kurang percaya 100 % ceritanya, karena kayaknya  terdengar seperti ada unsur iri/dendam atas teman-temannya yang masih menjabat, tapi layaklah untuk jadi referensi dan yah sedikit disimak.
"Kalau ada proyek dengan nilai Rp 2.400,- per bibitnya, maka atasan akan menekan bawahan supaya mencari bibit yang harganya Rp 400,- (bayangkan turunnya drastis kan?). Para bawahan pun berupaya mencari dan menekan penjual bibitnya. Bahkan penjual terkadang cuma dibayar separuhnya oleh bawahan yang tertekan tadi".

Terbayang di mata saya efeknya yang justru berbahaya, penjual bibit pun menjual bibit yang asal-asalan. Lho kok brani? Toh antara pembeli dan pemakai/petani berbeda, apalagi dibarengi dengan pengetahuan yang minim akan bibit buah serta jarak waktu yang panjang antara pembagian dan saat tanaman tersebut bisa berbuah. Bibit proyek umumnya memang kecil, tingginya berkisar antara 30 - 50 Cm. Seorang teman pernah memperhatikan berapa bibit yang masih hidup dari bibit yang dibagikan dalam waktui satu tahun, ternyata rendah sekali, kurang dari 30 %. Meski datanya tidak valid, tapi saya salut, dia peduli, itu yang penting.

"Lah kan sekarang kan semuanya lewat tender, pak?" tanya saya ngetes.
"Ah, mas kayak nggak tahu aja..."
"Saya memang nggak tahu, pak?" tanya saya lugu, namun sayang bapak itu berlalu begitu saja, membawa senyum ejekannya.

Tender bibit, membuat saya juga teringat seorang pedagang besar tanaman hias yang menceritakan pekerjaan sambilan anaknya sebagai peserta tender. Sebagian besar lelang yang dia ikuti bisa dimenangkannya, namun dia tidak mengerjakan proyek itu, dia hanya mengambil uang saku yang diberikan orang dalam yang ingin mengerjakan proyek tersebut. Aah, benarkah cerita tersebut? Terus terang saya ragu, karena tidak tahu sendiri kejadiannya. Sebagai orang accounting juga, saya tahu pastilah ada pemeriksaan dalam setiap tender proyek, tidak semudah itu. Saya cuma benar-benar 'miris'......dan prihatin.

Tapi bagaimana kalau itu cerita-cerita di atas benar? Berarti benar dong film "Betapa lucunya negeri ini!" Kapan negara ini maju kalau kita masih main petak umpet macam anak kecil seperti ini! Semoga bila ada yang merasa tersindir, jangan marah. Swer! Tak ada maksud jelek apapun, selain demi kebaikan kita......tolonglah.....kebaikan anak cucu kita kelak. Saya pribadi yakin kok, masih banyak orang baik di negeri ini. Saya begitu mencintai negeri ini, negeri kita bersama. Jangan sampai kita ikut menghancurkan mimpi pendahulu kita yang berjuang untuk bebas selama 350 tahun! Hiiiks....350 tahun!!!!!

Bila Anda setia baca blog ini, pasti Anda teringat seorang petani di sebelah 'Lembaga Peneliti Tanaman Perkebunan dan Buah' terkenal terpaksa harus menelan kekecewaan karena durennya bukan Monthong, padahal waktu pembagiannya bilang Monthong. Sayang dia nanya ke lembaganya telat, setelah tujuh tahun berlalu. Padahal 'tonggone sampeyan dhewe' lho, mas.

Tidak selamanya yang gratis jelek, namun Anda perlu kritis sekarang. Anda sekarang tahu 'Tidak ada yang gratis di dunia ini". Kalau Anda tidak menukar uang sebagai gantinya, Anda telah menukarkan mimpi berharga Anda. Pantaskah itu?











0 ulasan:

Poskan Komentar

Silahkan Anda berkomentar. Namun tetap menjaga kesopanan. Terima-kasih.

 
Free Web Hosting | Top Web Host