Agro Mono Horti. & Konsultan

Senin, 31 Januari 2011

Sedia Bibit Buah Simalakama?

Mungkin Anda tertawa mendengar judul pertanyaan di atas, tapi saya tidak hanya sekali saja mendapat pertanyaan seperti itu? Atau mungkin Anda merasa saya mebuat-buat saja judul di atas, kalau sekiranya Anda masih kurang percaya, salah satunya Anda bisa lihat di komentar blog ini? Atau mungkin Anda iseng ingin tanya juga: Adakah buah Kuldi yang membuat Ibu Siti Hawa tergoda? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sudah biasa bagi saya, kali pertama mungkin timbul rasa marah sejenak, lalu berangsur-angsur tertawa ngakak!

Buah Simalakama kan buah yang membuat orang yang memakannya bergidik, bagaimana tidak wong kalau dimakan Emak mati...eeee kalau ngeyel nggak dimakan Bapak yang mati! Sepertinya hanya perumpamaan, namun kalau kita pelajari lebih dalam, buah simalakama adalah pilihan hidup kita sehari-hari. Setiap detik, menit, jam dan hari maka kita terus dihadapkan pilihan yang luar biasa banyaknya. Apalagi di saat sekarang ini tiap harinya kita dibombardir jutaan iklan, baik yang sadar maupun yang tidak sadar masuk ke ingatan kita. Kalau kita tidak siap, kesalahan dalam pilihan akan berakibat dahsyat dan berantai (terus-menerus, sambung menyambung) bahkan lebih kejam daripada memakan buah simalakama itu sendiri.

Lho trus apa hubungannya buah simalakama dengan bibit buah? Banyak lah. Coba kalau seandainya ketika Anda remaja (17-an) dulu sudah rajin menanam bibit buah, sedangkan sekarang umur Anda misalnya 45 tahun, maka saat ini Anda tinggal memetiknya hasilnya kan? Tapi kalau tidak, sekarang ini Anda mesti cepat-cepat menanam bibit buah, sebelum semuanya terlambat.......Lain bener lho makan di atas pohon dengan buah-buah ranum yang matang di pohon dengan makan beli di pinggir jalan. Jauhhhhh.......

Lebih-lebih lagi kalau dihubungkan dengan tabulampot (tanaman buah dalam pot) yang wah. Tabulampot Super (artinya super mahal) pernah membuat saya dimaki-maki oleh seorang bapak, ketika dia saya beritahu harganya. Dia bilang bahwa dia bisa beli ratusan bibit dengan jumlah uang yang saya sebutkan. Namun diapun mengerti ketika kujelaskan beberapa hal berikut ini:
- tabulampot tersebut telah mengalami training selama 4 tahun lebih
- tabulampot tersebut bibitnya langsung diimpor dari negar asal
- tabulampot tersebut diletakkan dalam pot kayu pernis yang harganya mahal
- tabulampot tersebut satu-satunya milik saya yang sudah berbuah
- tabulampot tersebut termasuk masih langka di negeri ini dan dicari-cari
- dll, masih banyak lagi.

Sampai kemudian bapak itu mohon maaf kepada saya dengan takjim, dan minta kepada saya untuk mau melepas tabulampot itu padanya, sebagai tebusan atas perasaan bersalah yang dia rasakan. Sebenarnya saya memberi label harga selangit itu dengan sengaja, supaya tidak ada orang yang mampu membelinya. Namun karena saya terbawa emosi perasaan waktu itu, trenyuh melihat bapak itu dengan sungguh-sungguh minta maaf, sayapun mengabulkannya tanpa berpikir akibatnya. Padahal akibatnya sungguh dahsyat (sampai sekarang saya masih merasa menyesal), saya melepaskan contoh satu-satunya dari leci dataran rendah yang sudah berbuah! Sungguh waktu itu seperti memakan buah simalakama. Ah, sudahlah!





Sabtu, 29 Januari 2011

Nikmatnya Sedekah Bibit Buah

Dulu saya pernah tinggal lama di Cikarang. Tinggal di sebuah kampung yang sebagian penduduknya bekerja mencari nafkah dengan mengedarkan proposal sumbangan pembangunan Masjid di jalan-jalan, terutama di Jakarta. Rasanya sedih banget saya waktu itu, mereka seperti menjual agama secara murah, kok bisa begitu? Mereka bekerjanya seperti mafia; ada yang membuat proposal dengan alamat aspal, ada yang jadi bosnya (maksud saya yang beli proposal tersebut), dan ada pengedar yang membeli eceran salinan proposal dari bos tadi.

Suatu hari saya bertemu mereka di jalan, mereka berpakaian Muslim lengkap dengan baju koko dan kopiahnuya. Waktu itu saya bersama seorang teman yang guru ngaji dan sikap saya agak sinis padanya, ketika dia memberi mereka uang. Namun dia justru tersenyum dan balik menyadarkan saya ketika dia berkata:
"Berpikir yang baik-baik saja, mas! Niat kita ngamal ya udah titik. Nggak usah berpikir macam2. Ikhlas aja, enakkan?" Diapun menatap saya sambil tersenyum.
Rasanya hati saya 'mak plong'. Selama ini saya terbebani oleh kebencian saya pada mereka. Rasa benci itupun hilang! Dulu saya menganggap mereka menjelek-jelekan citra agama saya. Sudahlah, dosa mereka urusan mereka sendiri.


Apalagi setelah saya melihat tayangan 'Nikmatnya Sedekah' Ustad Yusuf Mansyur di MNCTV tiap Selasa dan Rabu setelah Sholat Shubuh.Saya sadar begitu dahsyatnya sedekah. Sedekah membersihkan harta kita, menjadi tolak bala dan mampu melipatgandakan dengan mengembalikan apa-apa yang kita sedekahkan dengan ikhlas dengan kelipatan yang tak terbatas. Luar biasa! Sekarang, tiap kali ada masalah, order sepi atau nggak ada mood menulis, saya upayakan kalo ada bersedekah, entah dari mana, perlahan-lahan Tuhan memberi jalan keluarnya. Alhamdulillah.

Yang berat adalah saat kita dapat kesenangan dengan mendapatkan rejeki uang yang banyak, kita sering lupa, padahal sedekah adalah pengait atau tali penyambung dari rejeki yang satu ke rejeki yang lain. Yang terjadi kemudian rejeki kitapun terputus. Dan di saat seperti inilah kita gampang berputus asa, maka makin jauhlah rejeki itu.


Masalahnya sekarang , mengapa kita bisa lupa atau khilaf? Karena hanya bentuk uang kan yang Anda berikan. Ini menimbulkan rasa bosan yang membahayakan. Apalagi 'menurut pikiran kita' uang itu hasil kerja keras kita, tentu kita eman untuk melepaskannya. Uang sedemikian cairnya, sehingga pikiran kita berprasangka pasti akan digunakan untuk keperluan konsumtif  yang tidak perlu. Ini yang menjadikan kita males dan kemudian berlanjut ke lupa. Sayapun berpikir terus untuk mencari pengganti uang dan byaaar.....kenapa tak pernah terpikir untuk bersedekah dengan bibit buah?


Idenya tercetus begitu saja. Di kampung istri saya, tiap kali saya ceritakan ada lengkeng yang bisa berbuah di dataran rendah, mereka justru tertawa. Dari dulu itu nggak mungkin, mas! Akhirnya setelah mendapatkan keuntungan dari suatu transaksi, saya bawa pulang kampung beberapa bibit buah, termasuk lengkeng dataran rendah dan saya bagikan ke beberapa saudara istri saya untuk ditanam. Uhhh, bangganya! Apalagi kalo nanti sudah berbuah. Wuihhh (karena saya yakin itu). Terima kasih Tuihan.

Itulah ide awal saya untuk membuka donasi sedekah bibit buah bagi Anda. Saya melihat masih banyak daerah-daerah yang memerlukan bibit buah, tapi yang benar-benar unggul dan siap ditanam di lapangan. Mungkin dalam hati Anda protes. Saya mengerti. Apa betul kita kekurangan? Lihatlah angka makan buah di negeri ini yang masih rendah. Atau lihatlah sekitar Anda, mengapa anak-anak tetangga masih suka mencuri tanaman buah kita? Yang membuat kita jengkel, geram dan memilih untuk menebang tanamannya! Sayangkan....

Terus terang kita masih tertinggal tehnologi hortikulturanya dibandingkan negara tetangga sekalipun. Dulu almarhum pak Harto sadar itu, beliau memang memprioritaskan swasembada beras dulu, dan setelah itu tercapai maka beliau pun ikut membidani lahirnya Mekarsari. Contoh di sekitar saya, Ungaran terkenal sebagai salah satu daerah sentra Rambutan, namun cobalah untuk mencoba membeli di pinggir jalan ketika panen raya. Anda akan temukan Rambutan yang kecil, tidak nglotok dan masih terasa masam. Bagaimana mungkin ini masih terjadi, ketika kita melihat banyak berdirinya pembibitan buah unggul, proyek penyebaran bibit buah oleh pemerintah dan dilahirkannya buah unggul nasional seperti Rapiah. Entahlah....yang jelas masih banyak yang perlu kita benahi dan kita sedekahkan. Mari!







Senin, 24 Januari 2011

Showroom Bibit buah

Untuk menambah koleksi baru, terkadang saya berburu varitas-varitas tanaman buah baru yang belum saya miliki untuk saya gunakan sebagai tanaman/pohon induk. Nah, hal ini memerlukan kesabaran dan ketelitian yang tinggi, apakah tanaman induk benar-benar sudah terbukti berbuah? Sehingga sayapun mencari  penakar bibit buah yang memiliki tanaman induk yang dipajang  di tempat pembibitannya. Terlihat menarik bila melihat tanaman induk sudah berbuah.

Saya tak segan-segan meminta pada pemilik untuk bisa mencicipi rasa buahnya langsung, karena saya seperti mewakili pelanggan saya.

Berburu varitas baru memang seni tersendiri, perlu penilaian yang akurat, apakah tanaman buah tersebut layak diperbanyak untuk dijual/disebarkan atau tidak? Karena ini sebuah tanggung jawab moral bagi para penakar bibit profesional. Foto-foto di atas hanya contoh yang memperlihatkan bagaimana tanaman induk atau bibit buah yang berbuah di tempat penjualan bibit mampu memikat orang untuk membeli bibit buah, bahkan orang yang tadinya tak punya niat membeli sekalipun.

Sabtu, 22 Januari 2011

Cara Kilat Memilih Bibit Buah (3 Menit atau Kurang)


Ada 2 orang yang berjasa mengajari saya caranya (yang sebentar lagi akan Anda baca). Pertama bapak saya sendiri. Suatu kali setelah selesai Sholat Subuh, bapak mengajak saya yang waktu itu berumur 11 tahun ke kebun Karet. Dari tempat yang paling tinggi (sitinggil) bapak bertanya: "Apa yang kau lihat di depanmu?"
"Ribuan tanaman Karet" Jawab saya polos.
"Kau tahu, mana yang sakit dan mana yang tidak?" sambil memandangku dalam-dalam. Saya menggeleng, tak mengerti maksud bapak.
"Mari sini kutunjukkan. Lihatlah hanya satu tanaman saja di satu tempat yang kau anggap mewakili. Perhatikan terus semua bagian tanaman itu saja, fokus! Lihatlah serdetail-detailnya. Lihatlah daunnya, akarnya, guratan kulit batangnya, dan semuanya. Paham! Apa yang kau lihat sekarang?"
Meski masih agak gelap, namun matahari pagi yang mulai perlahan muncul, memperlihatkan keanehan di daun karet.
"Bercak daun" jawab saya asal. Bapak tersenyum.
"Awal yang bagus, ok, kita lihat lagi ke tampat yang lain!"
Begitulah, sejak itu paling tidak satu hari dalam satu bulan, bapak mengajak saya jalan-jalan dengan cara seperti itu.

Sedang satu orang lainnya adalah teman saya yang bekerja sebagai penilai yang ditempatkan di negara Australia. Ia dalam hitungan sekian detik harus mampu menilai satu sapi bibitan dalam barisan yang panjang yang akan diimpor ke Indonesia. Tentunya akan panjang jika saya menjelaskan cara dia di sini, namun paling tidak saya bisa menyingkatkan untuk Anda dalam satu kata yaitu kesuburan. Dan memanjangkannya dengan menerapkan pada pemilihan bibit buah, sebagai berikut ini:

1. Daun
Parameter pertama yang perlu Anda lihat pada bibit yang baik: warnanya daun yang hijau cerah, atau pucuknya yang hijau/merah muda. Jika sedang stagnan, daunnya tetap memperlihatkan hijau tua yang indah mengkilat. Maka bandingkan juga ukuran daunnya bisa tampak besar atau justru mengecil? Lihat adakah bekas serangan hama atau penyakit? Curigai bila ada yang menggulung (keriting).

2. Batang
Lihat dulu bekas sambungannya, bila ada benjolan berarti ada ketidakcocokan antara batang bawah dan atas. Batang ataspun harus tegak mengarah ke atas, tidak boleh bengkok atau merunduk ke bawah. Kalau sudah besar (untuk tabulampot) lihat apakah pakai rumusan (1, 2, 4,...dst). Artinya pilihlah bibit yang sudah ada percabangannya, bila ketinggiannya sekitar 1 meter. Adakah jamur yang menempel, berbentuk bultan-bulatan putih? Apakah ada bekas sanyatan atau bekas penggerek batang? Kalau ada jangan dipilih! Batang yang bagus,  lurus, kulit batang cerah beralur, potongan cabang/dahan tidak dipaksakan, bentuk proposional atas bawahnya.

3. Akar
Setelah bagian atas selesai, Anda lihat media tanamannya. Campuran dari apa? Poros tidak? Cobalah dibongkar/keduk sedikit, dan lihat adakah akar-akar serabutnya? Bibit yang subur penuh dengan akar serabut ini dan biasanya sudah sampai ke tepian polybag atau sudah menembus polybag, dan ujung akar tampak putih.

4. Buah
Bila bibit tanaman sudah berbuah, dan ini sering terjadi pada tanaman buah tertentu yang mudah berbuah, yang harus diperhatikan adalah apakah daunnya rontok? Bentuk buahnyapun harus sempurna, tidak berulat, proporsional, tidak mengecil, warna kulit buah cerah atau biasanya berminyak atau ada bubuk putihnya. 

Nah, setelah membaca kriteria di atas berulang-ulang dan mempraktekkannya, Andapun bisa secara kilat memilih bibit buah yang akan Anda beli, berapapun itu banyaknya! Dijamin.






Rabu, 19 Januari 2011

Tip-tip Membuat Kebun Buah bak Kebun Surga

Jika Anda memiliki halaman rumah yang cukup luas, mengapa tidak memilih untuk membuat kebun buah? Bahkan pengalaman kami, dimana dengan halaman yang sempitpun bisa, asal tahu tata ruangnya, biasanya akan didominasi tabulampot yang indah.

Banyak cara yang dilakukan orang untuk membuat kebun buah, namun cara yang paling parah dan yang selama ini banyak kita gunakan adalah menanam bibit buah dengan cara satu persatu (mencicil), dengan tata letak seadanya. Hasilnya betul-betul semrawut! Kita sering lupa, bahwa membangun kebun buah hampir mirip dengan membangun rumah. Sebuah satu kesatuan. Perlu strategi dan rencana yang matang. Mau jadi apa sih kebun buah kita nantinya? Setiap kali saya menawarkan jasa pembuatan kebun buah kepada pembeli partai besar, sering kali saya mendapat jawaban: "Ah, gampang! Apa sih susahnya membuat kebun buah? Tinggal tanam aja kok repot."

Seorang hobiis tanaman buah-buahan bernama pak Tantra, bahkan membuat saya jadi tersadar bahwa selama ini kita banyak mengabaikan manajemen pemasaran dalam membuat kebun buah, artinya kalau Anda sudah punya berhektar-hektar kebun buah tapi belum ada pemasukan yang Anda dapat, justru pengeluaran yang terus membebani Anda tiap bulan, berarti perencanaan kita yang salah sejak awal. Harus diakui itu memang salah satu faktor penting dalam membuat kebun buah, dan masih banyak faktor teknis yang akan dibahas di sini yang tak kalah pentingnya, karena akan membuat kebun buah Anda bak kebun di Surga. 

Nah, sebagai panduan singkat, tip-tip berikut akan bisa jadi panduan singkat untuk Anda dalam mebuat kebun buah:

1. Jarak Tanam. Ini yang paling sering dilupakan ketika menanam bibit buah. Tanpa didasari pengetahuan akan sifat tanaman buah tertentu, kita menanam berdasarkan feeling atau gimana enaknya aja. Yang terjadi tajuk daun antar tanaman saling menutupi. Bahkan saya pernah melihat sendiri, ada yang menanam bibit buah di bawah naungan tanaman yang besar, tentunya tak cukup sinar matahari yang bisa masuk ke bawah, entahlah, apa maksudnya ingin memanfaatkan tanah yang kosong di bawahnya yang dianggap mubazir? Jarak tanam bisa berdasarkan aturan baku terhadap masing-masing tanaman atau sesuai dengan keinginan kita akan seberapa besar tanaman itu nantinya (ini tergantung juga seberapa besar Anda rajin memangkas). Jarak tanam memberi ruangan pada kita untuk melihat dengan jelas bila tanaman berbuah, indah, indah sekali. Dan ini yang tidak pernah dirasakan, bila jarak tanam dilanggar maka kita cuma melihat pemandangan tumpukan tanaman yang berbuah, maaf, kayak sampah. Sehingga tak heran kitapun cepat bosan! Jarak tanam membuat kebun buah kita tampak rapi berbaris, sehingga memudahkan dalam panenan.


2. Tata-letak. Tata letak mengharuskan kita menanam serempak, artinya bukan satu-satu. Kita tahu tanaman buah apa yang panyat di depan rumah dan mana yang di belakang. Lho trus bagaimana dengan tanaman yang sudah ada, apa mesti ditebang? Oh, ya tidak, hanya perlu diatur dan dilakukan pemangkasan berat. Dan kita perlu tahu bahwa bibit yang cepat tumbuh saja yang ditanam disamping tanaman lama tersebut, misalnya bibit buah Matoa. Pernah suatu kali, seorang pensiunan pegawai perkebunan ngotot ingin dibuatkan kebun buah Coklat di depan rumahnya, untuk mengingatkan akan kenangan masa bekerja dulu. Secara panjang lebar saya jelaskan 'kepantesan' umum yang berlaku di masyarakat. Dan diapun menyerah, setuju menanam di samping rumah. Dan perlu diwaspadai, jangan menanam tanaman terlalu dekat dengan rumah, selain bahaya ambruknya tanaman akibat angin, juga perakaran tanaman yang bisa merusak dasaran rumah.

3. Kontur Tanah. Bila halaman Anda datar, ketika tanaman masih berupa bibit kecil mungkin tidak masalah, Anda masih bisa melihat semuanya secara kasat mata. Namun ketika tanaman tumbuh membesar, yang tampak hanya tanaman di baris-baris depan saja. Itu tidak indah, pemecahannya dengan membuatkan/ menambahkan tanah sehingga bisa dibuat gundukan, guludan, undak-undakan atau terasering, Kebun buah Anda jadi tampak seperti piramida, indah dan meliuk-liuk. Wooow!!!

4. Sistem Irigasi. Bahkan kebun Agrowisata terkenal mengabaikan yang satu ini. Karena letaknya yang di daerah basah, mungkin dipikir hanya dibutuhkan ketika kemarau saja. Namun fungsi sistem irigasi tidak hanya itu saja; bisa menyimpan air, membuang kelebihan air (lahan bekas persawahan), dan rutinitas pengairan saat tanaman berbuah. Sekarang ini, banyak sistem yang bisa dipilih, sistem tetes merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Yang bisa menunjukkan kontinuitas masuknya air.  Bapak saya yang seorang perkebunan tulen (yang juga guru saya), pernah memperlihatkan pada saya pembuatan saluran pembuangan yang dalamnya mencapai 3 m lebih. Kebun yang tadinya merana, berubah subur dan produktif.

Sebenarnya masih banyak tip-tip yang perlu dijelaskan seperti sifat tanaman, kepercayaan masyarakat akan tanaman buah tertentu, pemeliharaan berkelanjutan, dan lain-lain. Mungkin foto-foto dibawah ini bisa mewakilinya:


Senin, 10 Januari 2011

Rahasia Tanpa Perlakuan Berbuah lebat!

Pohon mangga Arum manis yang di tanam pak De puluhan tahun yang lalu, masih berbuah lebat di depan rumahnya. Bayangkan, selama pohon itu hidup, tak pernah sekalipun ada perlakuan berarti dari pemilik. Benar-benar pohon buah unggulan. Manisnya buah, tak kalah dibandingkan Arum manis Probolinggo. 

Begitu banyak contoh seperti itu di masyarakat kita. "Ngapain mesti dipupuk, tanpa dipupuk aja sudah berbuah lebat begitu?" Itu jawaban yang saya terima bila saya menganjurkan pemiliknya supaya pohon buah itu dipupuk. Ada rasa kasihan, melihat begitu banyaknya dompolan buah di atas pohon. Tentunya banyak sekali energi dari pohon yang dikeluarkan untuk menghasilkan buah sebanyak itu.

Biasanya kecocokan dengan syarat agroklimat menjadi faktor penentu. Banyak kebun buah rakyat di daerah-daerah dibiarkan begitu saja tumbuh dan berbuah tanpa perlakuan atau pemeliharaan tanaman oleh pemiliknya, seperti Mangga di Indramayu, Rambutan di Salaman Magelang atau Lengkeng di Ambarawa. Kemudian bila diperhatikan lagi, kedekatan dengan sumber air adalah faktor berikutnya. Di pinggiran saluran irigasi di Indramayu, banyak tumbuh mangga Indramayu yang rasa manis buahnya khas dan rata-rata besar buahnya hampir 1 Kg, hal ini tak bisa ditemui di daerah lain. Dan masih banyak faktor-faktor lain yang mendukung; antara lain dekat dengan kandang ternak, tak ada pohon sejenis di sekitarnya, merupakan lahan bekas hutan, dan sebagainya. 

Lantas apa akibatnya pada pohon buah tersebut bila hal ini terus dibiarkan? Bisa jadi tak ada pengaruhnya, karena sebenarnya pohon buah tersebut sudah dimanjakan oleh alam sekitarnya. Namun bila kondisinya berubah, atau dengan bertambahnya umur pohon buah tersebut, maka ya, akan terjadi seperti pohon di hutan. Pernahkah Anda masuk ke hutan? Di sana banyak pohon buah, kebanyakan buahnya kecil-kecil. Kalau kita makan seperti tak ada kenyangnya. Itu akibat yang terjadi seiring menuanya pohon, cabang-cabang mati merangas, kalah dengan benalu yang menempel. Atau buah-buah yang makin lama makin jarang muncul, sehingga pemiliknyapun menebangnya menjadikan sebagai kayu bakar, seperti nasib lengkeng di Ambarawa. Sebenarnya itu tak akan terjadi bila pemiliknya mau sedikit meluangkan waktu untuk memeliharanya, memberinya perlakuan ekstra, seperti pemupukan. Sayang terlambat!

Sabtu, 08 Januari 2011

Katakan dengan Buah, Bang!

Kita terbiasa melakukan sesuatu dengan cara meniru, tanpa tahu alasan yang jelas latar belakang dari tindakan tersebut. Memberi bunga kepada kekasih atau calon kekasih, dirasa adalah tindakan yang sudah pas dan tak perlu dirubah lagi. Padahal bunga hanya mampu melambangkan perasaan seseorang saja. Untuk melambangkan keberhasilan seseorang, sebenarnya agak kurang pas. Kecuali ada tulisan yang menyertainya. Ibarat pepatah bilang 'Bagai bunga kembang tak jadi', orang terbiasa mengartikan bunga yang tak jadi mekar, yang pas mungkin bunga yang gugur tak jadi buah. Begitu.

Nah, dengan buahlah simbol 'kesuksesan' itu bisa bener-bener tersampaikan. Maka pada waktu hari raya lebaran, orang mengirimkan parcel buah ke rekan bisnisnya, sebagai ucapan doa keberhasilan. Atau pada waktu seserahan, yang merupakan barang bawaan pengantin pria, melambangkan keberhasilan hubungan antara pria dan wanita sampai ke pelaminan. Namun karena gencarnya promosi produk kalengan dalam merubah mindset, lama kelamaan posisi buah di keranjang parcelpun menyusut. Hinggal tinggal sebagai pengisi kekosongan saja atau sama sekali tak ada. Melenceng dari tujuan kan???

Bahkan dalam melambangkan pengorbanan/persembahan kepada Tuhan kita atas keberkahan panen, dulu anak-anak pertama Nabi Adampun diceritakan hanya mempersembahkan 2 macam barang kesayangannya yaitu hewan ternak dan buah-buahan. Mungkin pada saat ini bisa dilihat pada bersih desa di Jawa, pesta laut, dan upacara-upacara agama Hindu. Sewaktu tinggal di Bali dulu, saya sampai mual melihat begitu banyaknya buah yang berserakan di jalan-jalan, sungai dan pohon sehabis ada upacara keagamaan. Buah melimpah sebanyak itu tentunya didatangkan dari luar Bali, namun mampu melambangkan keberkahan Bali sebagai pulau dewata.

Kita sadar, betapa panjang proses untuk kita bisa memetik buah. Andapun langsung berpikir, 'mudah kok tinggal memetik di hutan atau beli aja di pasar'. Oh, bukan itu maksud saya. Maksud saya memetik langsung dari pohon buah milik kita sendiri dan dari jenis buah unggul pilihan kita. Pertama tentunya kita membeli bibit buah unggul, kita tanam di kebun dengan pemeliharaan intensif, dan bla...bla.... Tak cukup bila saya uraikan di sini. Setelah akhirnya kemudian bisa berbuah, betapa bangganya Anda ketika membagikan ke saudara, tetangga, teman, dan yang terpenting ke kasih Anda. Bisa jadi dia sudah jadi istri Anda sekarang. Kebahagiaan yang tidak bisa dikatakan. Bayangkan, Anda melakukan ini setiap tahun.....maaf saya ulangi, setiap tahun. Inilah arti judul tulisan ini: Katakanlah dengan Buah, Bang! Tiap tahun.





Selasa, 04 Januari 2011

Mail Order Bibit Buah

Banyak cara dilakukan orang untuk bisa mengirimkan bibit buah ke tempat lain, apalagi ke tempat yang jauh. Namun tidak ada standar baku yang bisa jadi acuan. Akibatnya seringkali pihak penerima merasa dirugikan ketika menerima bibit buah, bisa karena rusak akibat salah pada saat pengepakan, terlalu berat wadah yang dipakai untuk pengepakan, bahkan seringkali terjadi bibit mati. Jasa pengiriman paketpun selama ini terkesan tidak terlalu peduli, bagaimana bibit buah yang dikirim supaya tidak rusak atau mati. Maka dalam kesempatan ini saya ingin memperlihatkan bagaimana standar (persiapan) mail order yang baik terhadap bibit buah di negara lain (supaya kita sedikit demi sedikit bisa meniru) melalui tayangan video YouTube di atas.

Senin, 03 Januari 2011

Harga Bibit Murah untuk Partai Besar



De Link Nursery







Menjual Bibit Partai








Merupakan Kerja Sama dalam Pemasaran Bibit Buah.
Dengan penerapan pola kemitraan, bagi hasil dan bapak asuh.
Wilayah mulai dari Bali, Purworejo, Wonosobo dan sampai ke Indramayu.
Hanya Melayani Partai Besar atau Proyek.

Desa Wujil, Bergas - Ungaran. No. Hp: 085226947434
E-mail: sulis.mono@yahoo.com


Harga bisa dinego berdasarkan jumlah pesanan.
Pemesanan bisa dilayani bila jumlah persediaan masih ada. 
Harga sewaktu-waktu bisa berubah!















DAFTAR HARGA BIBIT BUAH DAN KAYU



Harga Khusus untuk Partai Besar























No. Jenis Tanaman Harga (Rp) / Tinggi Tanaman Per Batang Keterangan

50 Cm 100 Cm 125 Cm 150 Cm

BIBIT KAYU

1
Jabon
1.200 2.000 2.500 3.000


2 Jati 1.500 2.000 3.000 3.500


3 Jati Putih 1.500 2.000 3.000 3.500


4 Nyamplung 1.500 2.000 3.000 3.500

5 Alba /Sengon 1.200 2.000 2.500 3.000


6 Surian 1.500 2.000 3.000 3.500


7 Mahoni 1.500 2.000 3.000 3.500

8 Rasamala 1.500 2.000 3.000 3.500

9 Tranbesi 1.500 2.000 3.000 3.500

10 Ulin 2.500 3.000 4.000 4.500

11 Kayu Manis 1.500 2.000 3.000 3.500

12
Manglid
1.500 2.000 3.000 3.500

13 Ketapang 10.000 25.000 30.000 Pelindung

14 Biola Canting 35.000 45.000 55.000 Pelindung

15 Kersem 5.000 15.000 20.000 Pelindung

16 Gelodogan Tiang 10.000 25.000 35.000 Pelindung

17 Gelodogan Lokal 10.000 25.000 35.000 Pelindung

18 Kidamar 10.000 25.000 30.000 Pelindung

19 Kayu Putih  10.000 25.000 30.000 Pelindung

20 Sawo Duren 10.000 25.000 30.000 Pelindung

21 Widara Laut 10.000 25.000 30.000 Pelindung

BIBIT BUAH


ANGGUR :


1 Probolinggo Ungu 10.000 15.000 25.000 50.000


2 Probolinggo Hijau 10.000 15.000 25.000 50.000


3 Australia Merah 10.000 15.000 25.000 50.000


4 Alfonso 10.000 15.000 25.000 50.000



ALPUKAT :


5 Mentega 10.000 15.000 25.000 50.000

6 Tawangmanggu 10.000 15.000 25.000 50.000

7 Telor 10.000 15.000 25.000 50.000


ASAM :

8 Jawa 10.000 15.000 25.000 50.000

9 Manis (Bangkok) 10.000 15.000 25.000 50.000


BELIMBING :

10 Bangkok 10.000 15.000 25.000 50.000

11 Dewi 10.000 15.000 25.000 50.000

12 Fhilipina 10.000 15.000 25.000 50.000

13 Wulan 10.000 15.000 25.000 50.000

14 Demak 10.000 15.000 25.000 50.000

15 Malaya 10.000 15.000 25.000 50.000

16 Asam 10.000 15.000 25.000 50.000


CERMAI





17 Masam 10.000 15.000 25.000 50.000


18 Manis 10.000 15.000 25.000 50.000



DURIAN

19 Monthong 14.500 17.000 35.000 60.000

20 Chane 14.500 17.000 35.000 60.000

21 Sukun 10.000 15.000 25.000 50.000

22 Petruk 10.000 15.000 25.000 50.000

23 Sunan 10.000 15.000 25.000 50.000

24 Hape 10.000 15.000 25.000 50.000

25 Sitokong 10.000 15.000 25.000 50.000

26 D.24 14.500 17.000 35.000 60.000

27 Matahari 10.000 15.000 25.000 50.000

28 lay 10.000 15.000 25.000 50.000


DUKU :

29 Condet 10.000 15.000 25.000 50.000

30 Palembang & Sumber 10.000 15.000 25.000 50.000

31 Gnandara 10.000 15.000 25.000 50.000


JAMBU BIJI :

32 Bangkok 10.000 15.000 25.000 50.000

33 Variegata 10.000 15.000 25.000 50.000

34 Getas Metas merah 10.000 15.000 25.000 50.000

35 Australia  10.000 15.000 25.000 50.000

36 Sukun lokal 10.000 15.000 25.000 50.000

37 Sukun bangkok 10.000 15.000 25.000 50.000

38 Sukun Merah  10.000 15.000 25.000 50.000


39 Kristalin 10.000 15.000 25.000 50.000


JAMBU AIR :

40 Cincalo Merah 10.000 15.000 25.000 50.000

41 Cincalo Hijau 10.000 15.000 25.000 50.000

42 Madura Putih 10.000 15.000 25.000 50.000

43 Madura Hijau 10.000 15.000 25.000 50.000

44 Lilin Merah 10.000 15.000 25.000 50.000

45 Lilin Hijau 10.000 15.000 25.000 50.000

46 Semarang Darah 10.000 15.000 25.000 50.000

47 King rose Apple 10.000 15.000 25.000 50.000

48 Redrose Apple 10.000 15.000 25.000 50.000

49 Black diamond 10.000 15.000 25.000 50.000

50 Air Apple 10.000 15.000 25.000 50.000

51 Air Bangkok 10.000 15.000 25.000 50.000

52 Citra 10.000 15.000 25.000 50.000

53 Kancing merah 10.000 15.000 25.000 50.000

54 Kancing putih 10.000 15.000 25.000 50.000


JAMBU BOL :

55 Jamaica 10.000 15.000 30.000 50.000

56 Darsono 10.000 15.000 25.000 50.000


JAMBLANG/DWET :

57 Ungu 10.000 15.000 25.000 50.000

58 putih 10.000 15.000 25.000 50.000


JERUK  :

59 Nipis biji 10.000 15.000 25.000 50.000

60 Nipis Non Biji 10.000 15.000 25.000 50.000

61 Limau 10.000 15.000 25.000 50.000

62 Lemon Cui 10.000 15.000 25.000 50.000

63 Purut 10.000 15.000 25.000 50.000

64 Nagami 10.000 15.000 25.000 50.000

65 Siam 10.000 15.000 25.000 50.000

66 Sunkist 10.000 15.000 25.000 50.000

67 Bali 10.000 15.000 25.000 50.000

68 Keprok Primog 10.000 15.000 25.000 50.000

69 Miyagi 10.000 15.000 25.000 50.000

70 Manis Batu 10.000 15.000 25.000 50.000

71 Mangse 10.000 15.000 25.000 50.000

72 Kip 10.000 15.000 25.000 50.000


KELAPA  :

73 Dalem 10.000 15.000 25.000 50.000

74 Hibridia 10.000 15.000 25.000 50.000

75 Pandan Wangi 12.500 20.000 30.000 60.000

76 Kopyor 10.000 15.000 25.000 50.000

77 Kesemek : 10.000 15.000 25.000 50.000

78 Kepel/Burahol 10.000 15.000 25.000 50.000

79 Kawista 10.000 15.000 25.000 50.000


LENGKENG

80 Ambarawa (Okulasi) 20.000 45.000 125.000 300.000

81 Pingpong 20.000 45.000 125.000 300.000

82 Kristalin 20.000 45.000 125.000 300.000

83 Itoh 20.000 45.000 125.000 300.000

84 Diamond River  20.000 45.000 125.000 300.000

85 Puangray 20.000 45.000 125.000 300.000

86 Aroma Durian 20.000 45.000 125.000 300.000

87 Lobi-Lobi 10.000 15.000 25.000 50.000


LECI 10.000 15.000 25.000 50.000

88 Dat. Tinggi - Lokal 10.000 15.000 25.000 50.000


89 Kom 40.000 50.000 65.000 - Cangkok

90 Manggis, dkk 10.000 15.000 25.000 50.000

91 Matoa 10.000 15.000 25.000 50.000

92 Markisa 10.000 15.000 25.000 50.000

93 Mulwo 10.000 15.000 25.000 50.000


MANGGA

94 Apel 10.000 15.000 25.000 50.000

95 Harumanis 10.000 15.000 25.000 50.000

96 Manalagi probolinggo 10.000 15.000 25.000 50.000

97 Manalagi situbondo 10.000 15.000 25.000 50.000

98 Indramayu 10.000 15.000 25.000 50.000

99 Gedong gincu 10.000 15.000 25.000 50.000

100 Gedong hijau 10.000 15.000 25.000 50.000

101 Golek 10.000 15.000 25.000 50.000

102 Madu anggur 10.000 15.000 25.000 50.000

103 Lalijiwo 10.000 15.000 25.000 50.000

104 Gadung 10.000 15.000 25.000 50.000

105 Imfort : 12.500 15.000 25.000 50.000

106 Okyong 12.500 15.000 25.000 50.000

107 Irwin 12.500 15.000 25.000 50.000

108 Kieoshawoy 12.500 15.000 25.000 50.000

109 Falan 12.500 15.000 25.000 50.000

110 Chokanan 12.500 15.000 25.000 50.000

111 Motingkau 12.500 15.000 25.000 50.000

112 Mentega 10.000 15.000 25.000 50.000

113 Krasak 10.000 15.000 25.000 50.000

114 Parkit 10.000 15.000 25.000 50.000

115 Nangklangwan 12.500 15.000 25.000 50.000

116 Cinangwang 12.500 15.000 25.000 50.000

117 Kiojae 12.500 15.000 25.000 50.000

118 Namdok way 12.500 15.000 25.000 50.000

119 Green bombay 12.500 15.000 25.000 50.000

120 Asia king 12.500 15.000 25.000 50.000

121 Nangka, dkk 10.000 15.000 25.000 50.000



 
Free Web Hosting | Top Web Host